KAJIAN SUNNAH dan HADITS Oleh : Melfa Melodi

PENDAHULUAN
Segala puji hanyalah milik Allah yang telah mengutus rasul yang mulia untuk menyampaikan cahanya-Nya kepada umat manusia guna menyelamatkan kehidupan umat manusia tersebut dari dzulumat al jahiliyyah. Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul terakhir diutus oleh Allah    disamping bertugas menyampaikan wahyu juga sekaligus menterjemahkan wahyu itu ke dalam bentuk realitas kehidupan beliau sehari-hari, sebagai suri tauladan bagi para sahabat secara khusus dan bagi seluruh umat islam pada umumnya.
Al-Qur’an yang beliau terima tidak mungkin bisa dipahami maksud dan tujuannya tanpa ada penjelasan dari rasulullah Saw. baik berupa penjelasan lisan ataupun penjelasan konkrit melalui sikap, tingkah laku dan perbuatan beliau. Perkataan, sikap dan perbuatan beliau tersebut itulah yang menjadi sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an.
Ada beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ucapan,perbuatan dan sikap rasulullah tersebut yaitu; sunnah, hadits, khabar dan atsar. Sehubungan dengan hal ini maka muncullah pertanyaan, kenapa muncul beberapa istilah untuk menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan rasullullah dan kenapa para ulama memberikan definisi yang beragam terhadap istilah-istilah tersebut, lalu bagaimana pula kedudukan perkataan, perbuatan ataupun taqrir dari rasulullah, apakah bisa disebut sebagai wahyu atau bukan ketika dikaitkan dengan ayat: wamaa yantiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyun yuuha?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka pemakalah mencoba menghimpun pendapat-pendapat para ahli dan menganalisanya sehingga diharapkan tidak muncul kerancuan dalam fikiran dan pemahaman.
PENGERTIAN SUNNAH, HADITS, KHABAR DAN ATSAR SECARA BAHASA DAN ISTILAH (PERBEDAAN PENGERTIAN SUNNAH DAN HADITS MENURUT PARA AHLI)
Pengertian Sunnah
Kata  sunnah ( سنة ) berasal dari kata سن .  Kata sunnah secara bahasa berarti: peri kehidupan, perilaku, jalan, cara, metode, tabiat, watak, hadits, lawan makruh. Kata sunnah juga berarti:
السيرة  حسنة   كانت أو قبيحة
Artinya: Perjalanan hidup yang dijalani terpuji atau tidak.
Suatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah walaupun tidak baik. Berikut hadits yang berkaitan dengan ta’rif ini:
حدثني محمد بن المثنى العنزي، أخبرنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن عون بن أبي جحيفة، عن المنذر بن جرير عن أبيه قال: ….”من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء و من سن في الاسلام سنة شيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء……
Artinya: (Muslim berkata) ….(riwayat itu) dari bapaknya jarir, dia berkata:…Barangsiapa yang merintis suatu jalan yang baik dalam islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkan sesudahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun, dan siapa yang merintis jalan yang buruk dalam islam dia akan menerima dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.
Dalam al-Qur’an pun terdapat kata-kata sunnah, di antaranya bermakna ketetapan: surah al-Isra ayat 77:
سنة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ولا تجد لسنتنا تحويلا.
Artinya: (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang kami utus sebelum kamudan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.
Menurut istilah sunnah memiliki pengertian yang beragam sesuai dengan versi masing-masing para ahli syara’. Menurut para ahli hadits pengertian  sunnah adalah:
كل ما أثر عن الرسول ص م من قول، أو فعل، أو تقرير، صفت خلقية أو خلقية، أو سيرة سواؤ أكان ذالك قبل البعثة كتحنثه في غار حراء  أم بعدها .
Artinya : Apa yang disandarkan kepada nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam baik berupa ucapan,perbuatan penetapan, sifat, kelakuan atau sirah beliau baik sebelum kenabian atau sesudahnya.
Dengan pengertian ini, menurut mayoritas ulama sunnah sinonim dengan hadits.
Dalam pengertian lain disebutkan:
كل ما يتصل به من سيرة وخلق وشمائل وإخبار وأقوال وأفعال سواء أثبت المنقول حكما شرعيا أم لا.
Artinya: segala sesuatu yang berhubungan dengan sirah (perjalanan hidup) nabi SAW, (budi pekerti, berita, perkataan, perbuatan baik melahirkan syara’ atau tidak.”
Mereka mendefenisikan sunnah sebagaimana di atas karena mereka memandang diri Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Karena itu mereka menerima secara utuh segala yang diberitakan tentang Rasulullah SAW tanpa membedakan apakah berhubungan dengan hukum syara’ atau tidak dan tidak memisahkan antara sebelum diutus menjadi rasul atau sesudahnya.
Pendapat tersebut didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 21:
لقد كان لكم في رسول الله أسووة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
Artinya: “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat ) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dalam surah Asy-Syura ayat 52 juga disebutkan:
…وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم…
Artinya: …dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk  kepada jalan yang lurus…”
Sedangkan menurut ahli ushul sunnah berarti:
كل ما صدر عن النبي ص م غير القرآن الكريم، من قول أو فعل، أو تقرير، مما يصلح أن يكون دليلا لحكم شرعي.
Segala yang bersumber dari nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam selain al Qur’an baik berupa ucapan,perbuatanatau ketetapan yang pantas dijadikan dalil hukum syara’.
Ahli ushul membatasi defenisi sunnah pada sesuatu yang bersumber dari nabi yang berkaitan dengan hukum  syara’. Pendapat mereka berdasarkan argumentasi bahwa rasulullah SAW. adalah pembawa dan pengatur undang-undang.
Argumentasi mereka berdasarkan ayat al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 7:
وما اتاكم  الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب.
Artinya: “…apa yang diberikan rasulullah kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha keras siksaan-nya.”
Menurut ahli fiqh sunnah mempunyai pengertian:
كل ما ثبت عن النبي ص م ولم يكون من باب الفرض ولا الواجب.
Hal-hal yang berasal dari nabi Sallallahu Alaihu wa Sallam tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan.
Pengertian Hadits
Kata hadist secara bahasa berarti “جديد ” (baru). Dimaksudkan sebagai lawan kata “ قديم ” yang merupakan sifat dari kalam Allah, sedang sabda nabi mempunyai sifat baru yaitu didahului oleh sifat “tidak ada”. Kata hadits juga digunakan dalam perkataan Hadits dapat juga berarti “ الجديد من الأشياء ” (yang baru dari segala sesuatu), hadits merupakan khabar baik sedikit ataupun banyak, jama’nya adalah ” أحاديث ” sewazan dengan “ قطيع “ yang jama’nya adalah “ أقاطيع “ bentuk jamak yang demikian adalah bentuk jamak yang syaz tidak mengikuti cara pembentukan jamak yang baku.
Hadits dengan pengertian khabar tersebut dapat dilihat pada:
Surah al-Thur ayat 34:
فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صدقين
Artinya: “ maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’an,  yang jikang  mereka orang-orang yang benar.”
Al-Kahfi ayat 6:
فلعلك باخع نفسك على اثارهم إن لم يؤمنوا بهذا الحديث أسفا
Artinya: “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena sedih sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman dengan keterangan ini (al-Qur’an)
Secara terminology terdapat beberapa difinisi hadits:
Menurut istilah ahli hadits pengertian hadits merupakan sinonim dari sunnah yaitu:
ما يروي عن الرسولصلى الله عليه وسلم بعد النبوة من قوله زفعله وتقريره
Artinya : Segala  sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW sesudah kenabiannya berupa ucapan Nabi, segala perbuatan beliau dan segala keadaan beliau.
Yang dimaksudkan dengan Hadits dan sunnah  ialah semua yang bersumber dari Rasulullah S.A.W sebelum dan sesudah masa kerasulan. Namun jika penyebutan dikhususkan kepada hadits maka  yang dimaksudkan adalah sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah S.A.W sesudah bi’tsah / kerasulan, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Oleh sebab itu, bisa difahami bahwa sunnah lebih umum daripada hadits.
Sebagian muhadditsun berpendapat bahwa pengertian  hadits di atas terlalu sempit. Menurut mereka hadits mempunyai cakupan lebih luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi saja, melainkan termasuk yang disandarkan kepada sahabat. Dalam hal ini Turmudzi menyebutkan sebagai berikut:
وقيل الحديث لا يختص بالرفوع إليه صلى الله عليه وسلم بل جاء بالموقوف وهو ما أضيف إلى الصحابي والمقطوع وهو ما أضيف للتابعي.
Artinya: “dikatakan (dari ahli hadits), bahwa hadits itu bukan hanaya untuk sesuatu yang marfu’ yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW saja, melainkan juga untuk sesuatu yang mauquf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat, dan yang maqtu’, yaitu yang disandarkan kepada tabi’i”
Hadits  menurut pendapat ahli ushul mencakup perekataan Rasulullah S.A.W, perbuatan dan ketetapan beliau yang bisa dijadikan dalil hukum syara’. Senada dengan pendapat ini, Buchari menjelaskan bahwa bagi generasi sekarang, anggapan bahwa hadits ialah apa yang disandarkan kepada nabi saja, perlu diperluas dengan memasukan prilaku sahabat dan tabi’in.
Pengertian Al-Khabar
kata الخبر adalah mufrad, jama’nya adalah الأخبر  secara bahasa berarti: نبأ ( berita )   معلومات (pemberitahuan ). Dalam Lisan al-‘Arab kata khabar bermakna:
ما أتاك من نباء عمن تستخبر
(berita besar yang sampai kepadamu dari orang yang kamu minta khabar darinya).
Sedangkan secara terminology terdapat perbedaan pendapat d kalangan ahli syari’:
Khabar merupakan sinonim dari hadits, keduanya mencakup hadist marfu’, mauquf dan maqthu’
Khabar berbeda dari hadits:
Hadits mengandung keterangan mengenai semua perkataan,  metode  nabi dan yang  ditetapkan dari Nabi. Jadi, khabar bukan hanya dari nabi, tapi dapat juga bersumber dari sahabat.
Hadits dihfahami sekitar kepribadiaan rasulullah SAW, mencakup semua masalah yang bersumber dari nabi sedangkan khabar lebih luas Karena mencakup semua keterangan dari mana pun sumbernya.
Di antara keduanya ada keterkaitan , setiap hadits adalah khabar dan bukan sebaliknya. Maknanya, khabar lebih umum daripada hadits.
Pengertian Atsar
Kata الأثر  secara bahasa berarti: “ بقية الشيء ” (sisa sesuatu). الأثر juga berarti nukilan, dari pengertian ini doa yang yang dinukilkan dari nabi dinamakan do’a ma’tsur.
Atsar menurut istilah ada dua pendapat:
Atsar semakna dengan hadits dan khabar.
Yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik perkataan, perbuatan maupun penetapan. pengertian ini berkembang pada awal tumbuhnya Islam.
Atsar berbeda dengan hadits yaitu apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in baik berupa ucapan dan perbuatan mereka. Ulama fiqih Khurasan menamakan khabar mauquf dengan atsar dan khabar marfu’ dengan khabar.
Sedangkan salaf dan mayoritas khalaf mempergunakan istilah ini untuk riwayat secara mutlak, baik dari rasulullah SAW. maupun dari sahabat.
Di antara yang berpendapat tentang keumuman pengertian atsar adalah Abu Ja’far al-Thahawiy dalam karyanya , Tahzib al-Atsar, dan Ibn jarir al-rhabary dalam kitabnya Syarh Ma’any al-Atsar al-mukhtalifat al- Ma’tsurah dan Ahmad baihaqiy dalam karyanya Ma’rifat al-sunan wa al-Atsar.
C. PENDAPAT YANG MEMBEDAKAN ANTARA HADITS DAN SUNNAH
Latar belakang perbedaan defenisi
Sebagaimana telah dijelaskan dalam bahasan defenisi hadits dan sunnah, para ahli berpendapat bahwa sunnah merupakan Apa yang disandarkan kepada nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam baik berupa ucapan,perbuatan penetapan, sifat, kelakuan atau sirah beliau baik sebelum kenabian atau sesudahnya.
Sedangkan ahli ushul membatasi sunnah dengan keterkaitannya dengan hukum syara’, dengan kata lain sunnah merupakan segala ucapan atau perbuatan nabi saw.,  yang semuanya dalam rangka menetapkan hukum-hukum syara’. Hal ini disebabkan karena mereka hanya mengkaji rasulullah sebagai penetap hukum syara’ yang menjelaskann hukum yang ada dalam al-Qur’an.
Apabila dianalisa lebih teliti perbedaan defenisi hadits atau sunnah tersebut bermula dari perbedaan pandangan mereka dalam memandang hadits dan perbedaan latar belakang keilmuan yang mereka geluti serta perbedaan analisa mereka terhadap dalil yang mengharuskan umat Islam mengikuti segala sesuatu yang berasal dari nabi.
Para muhadditsun memahami perintah Allah secara utuh, jadi apa saja yang dating dari rasulullah mereka fahami sebagai hadits yang harus diamalkan. Sedangkan para ahli ushul berpendapat bahwa hadits terbatas pada hal-hal yang menyangkut kepentingan umat yang berdaya hukum. Sedangkan perbuatan, perkataan dan ketetapan yang tidak berdaya hukum, bukan termasuk hadits karena banyak yang berhubungan dangan kebiasaan pada masa itu. Seperti memakai sorban, laki-laki memakai celak dan lainnya. Tentunya ini membawa konsekuensi ada hadits yang diterima oleh muhadditsun tidak diakui oleh ahli ushul sebagai hadits. Para muhadditsun mengamalkan  cara berpakaian nabi karena memandang itu sebagai hadits, sedangkan ahli ushul tidak menganggap hal itu sesuatu yang harus diikuti.
Pendapat tentang perbedaan hadits dan sunnah
Perbedaan kedua istilah ini dapat dilihat dari sisi etimologi. Hadits berarti baru, perkataan dan berita. Sedangkan sunnah berarti jalan, baik atau buruk. Setiap orang yang memulai sesuatu lalu diikuti oleh orang sesudahnya maka disebut orang tersebut melakukan sunnah.
Bila dilihat dari sudut terminology tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hadits merupakan sinonim sunnah. Namun penekanan hadits lebih kepada apa yang disandarkan kepada Nabi SAW setelah kenabian. Maknanya, sunnah lebih umum daripada hadits.
Pada zaman Nabi hadits merupakan penguat dari sunnah. Sunnah menunjukkan –dalam penegrtian yang mendasar- kepada amalan nabi SAW, sedangkan hadits  pencatatan dan penguat sunnah. Akan tetapi lapangan hadits bukan hanya terbatas pada pencatatan perbuatan saja, namun juga mencakup perkataan dan perbuatan Nabi, sehingga dikenal ada hadits qauly, hadits fi’ly dan hadits taqririy. Imam Malik juga membedakan kedua. Beliau lebih mengutamakan sunnah daripada hadits. Pada abad kedua Hijriyah mulai adanya penyempitan makna sunna yang dikhususkan kepada tradisi rasul SAW saja. Sejak itlah berkembang pengertian ulama bahwa hadits dan sunnah adalah semakna.
Dari sini dapat difahami bahwa tidak selalu sunnah itu sesuai dengan hadits. Perbedaan ini memberika konsekuensi yang terkadang terdapat hadits berbeda dengan sunnah amaliyah. Hadits adalah semua peristiwa yang disandarkan kepada Nabi SAW walau dilakukan hanya satu kali dan diriwayatkan satu orang saja. Adapun sunnah merupakan sebutan bagi amaliyah mutawatir.
Menanggapi hal ini, ulama berusaha mengkompromikan keduanya dan dan juga yang ,mentarjihkan salah satu dari keduanya. Hal ini tergambar dalam perkataan  Abdurrahman bin Mahdi bahwa  ia tidak melihat orang yang lebih alim tentang 4dengan hammad bin Zaid. Ahli hadits banyak memakai kata hadits, sedangkan ahli ushul lebih banyak memakai istilah sunnah.
HADITS ANTARA WAHYU ATAU BUKAN DIKAITKAN DENGAN AYAT :
وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى ( النجم 3 )
“Nabi tidak berkata menurut hawa nafsunya, tapi  apa yang dikatakan tidak lain adalah wahyu yang diberikan”.
Dalam menanggapi masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa hadits adalah termasuk wahyu dan ada pula yang berpendapat bahwa hadits bukanlah wahyu.
Hadits Nabi Termasuk Wahyu Allah SWT
Terkait dengan Firman Allah dalam surat An Najm ayat 3-4 di atas Al Maraghi menjelaskan bahwa Nabi tidaklah berbicara berdasarkan kemauannya sendiri dan hawa nafsunya karena semua yang dikatakannya adalah benar. Nabi menyebutkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT dan menyampaikannya kepada manusia secara sempurna dan langsung tanpa ditambah atau dikurangi.
Muhammad ‘Ajjaj al khatib berpendapat: bahwa segala sesuatu yang berasal dari rasulullah selain al Qur’an  yang menjelaskan hukum syari’ah dan menjelaskan kandungan al Qur’an serta penerapannnya, dia adalah hadits atau sunnah yang didasari wahyu dari Allah atau ijtihad rasulullah, ketahuilah bahwa rasulullah saw. tidak menetapkan ijtihad dengan kesalahan, maka dengan demikian sunnah termasuk wahyu. Al Qur’an  al-karim adalah wahyu matluw yang berpahala membacanya sedangkan sunnah adalah wahyu gairu matluw dan tidak berpahala membacanya.
Hadits Nabi Tidak Termasuk Wahyu Allah SWT
Al-Qasimi dalam kitabnya menyebutkan bahwa yang dimaksudkan oleh firman Allah surat al-Najm ayat 3 adalah bahwa Nabi SAW tidak akan berkata tentang al-Qur’an berdasarkan hawa nafsunya. Dan dhamir huwa pada ayat ke 4 adalah kembali kepada al-Qur’an. Hal ini menurut beliau menolak argument ulama yang berpendapat bahwa hadits Nabi termasuk wahyu. Beliau juga berpendapat , bagaimana mungkin hadits merupakan wahyu sedangkan Nabi SAW sering melakukan ijtihad dalam beberapa masalah yang dihadapi umat Islam pada waktu. Seperti masalah strategi perang, tawanan dan lain sebagainya. Ayat di atas tidak melarang  Nabi melakukan ijtihad.
Hamka dalam tafsirnya –berkaitan dengan tafsiran surat an-najm ayat 3- menyebutkan bahwa segala tutur kata rasulullah tidak terlepas dari batas-batas wahyu. Apabila dikaitkan dengan ayat 44, 45, 46, suratal-Haqqah dapat dimengerti bahwa nabi SAW. Tidak boleh berkata dengan sesuka hatinya yang berakibat bertentangan dengan wahyu Allah SWT. Karena tangan kanan nabi akan ditarik dan tali jantungnya akan diputuskan bila beliau bertutur kata keluar dari garis wahyu. Oleh karena itulah disimpulkan bahwa hadits rasul bukan termasuk wahyu.
Menghadapi kontroversi yang terjadi, menurut analisa penulis kedua pendapat diatas dapat dikompromikan. Dalam arti kata hadits nabi tetap merupakan wahyu yang ghairu matluw, namun nabi tetap juga tidak dilarang berijtihad. Dalam berijtihad nabi tetap berada dalam pengawasan Allah SWT. Sehingga bila ijtihad nabi tersebut salah maka akan datang teguran dan pembetulan dari Allah SWT. Dengan adanya dua macam wahyu dari Allah SWT. Yakni ada yang lafadz dan maknanya dari Allah dan ada yang hanya maknanya saja dari Allah dan lafadznya dari nabi memberi faedah yang tidak kecil. Karena bila wahyu yang diturunkan hanya dalam bentuk al-Qur’an maka akan menimbulkan kesulitan dalam penghapalan lafadz-lafadznya. sedang apabila diturunkan seperti hadits saja, maka akan berakibat timbulnya keragu-raguan bagi umat islam dan juga akan menjadi bahan penghancuran islam bagi musuh-musuh islam dengan menghembuskan issue bahwa ajaran Islam tidak asli sudah dirubah dan dipalingkan maknanya oleh  umat Islam dahulu.
HADITS QUDSI
Secara bahasa Qudsi dinisbatkan kepada qudus yang artinya suci, yaitu sebuah perkataan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan atau penyadaran kepada dzat Allah yang Mahasuci. Kata-kata tersebut dalam bahasa menunjukkan arti الطهارة والتنزية )kesucian dan kebersihan(. Dalam al-Qur’an terdapat pada surat al-Baqarah ayat 30 :
…..ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك….
Artinya: “…(kata malaikat) Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau..”
Secara istilah hadits qudsi adalah:
كل حديث يضيف فيه الرسول صلى الله عليه وسلم قولا إلى الله عز وخل يسمى بالحديث القدسي أو الالهي
setiap hadits yang  rasulullah saw.menyandarkan perkataannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dinamakan hadits Qudsi.
Pengertian lain dari hadits Qudsi adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw. yang sanadnya sampai kepada Allah SWT. Dengan kata lain semua yang dibangsakan nabi kepada Allah SWT, jadi nabi meriwayatkan hadits ini adalah firman-Nya dengaan redaksi atau lafaz dari nabi sendiri.
Agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam memahami hadits nabawi, hadits qudsi dan wahyu Allah berupa al-Qur’an berikut penulis akan menjelaskan persamaan dan perbedaan hadits qudsi dengan hadits nabawi serta dengan al-Qur’an.
Persamaan dan perbedaan hadits Qudsi dengan hadits nabawi
Persamaan hadits Qudsi dengan hadits nabawi, di antaranya:
Kedua hadits ini mengandung wahyu dari Allah SWT. Hal ini bagi ulama yang berpendapat hadits merupakan wahyu.
Kedua lafaz hadits ini dari Rasulullah SAW, walupun penyandarannya ada yang kepada Nabi dan ada yang sampai kepada Allah SWT.
Perbedaan hadits Qudsi dengan hadits nabawi.
Sanad hadits Qudsi sampai kepada Allah, sedangkan hadits Nabawi tidak. Untuk mengidentifikasinya,pada hadits Qudsi terdapat kata-kata :
قال رسول الله ص م فيما يرويه عن ربه
قال رسول الله ص م قال الله عز وجل
Hadits Qudsi biasanya tergolong hadits ahad, sedangkan hadits nabawi ada yang mutawatir, masyhur dan ahad.
Persamaan dan perbedaan hadits Qudsi dengan al-Qur’an
Persamaan hadits Qudsi dengan al-Qur,an
Baik hadits Qudsi atau al-Qur’an keduanya bersumber dari Allah SWT, yang karenanya hadits Qudsi ini disebut hdits Ilahy.
Perbedaan hadits Qudsi dengan al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan mu’jizat sedangkan hadits Qudsi bukan.
Al-Qur’an makna dan redaksinya langsung dari Allah SWT, sedangkan hadits Qudsi maknanya dari Allah, redaksinya dari Nabi SAW.
Dalam shalat al-Quran merupakan bacaan yang diwajibkan dan tidak berlaku dalam hadits Qudsi.
Al-Quran diturunkan melalui perantaraan malaikat jibril sedangkan hadits Qudsi langsung melalui ilham atau mimpi.
Al-Qur’an qath’I dilalah dan qath’I tsubut sedangkan hadits Qudsi kebanyakan hadits ahad yang bersifat zhanni tsubut.
Membaca Al-Qur’an dinilai ibadah sedangkan hadits Qudsi tidak.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdaasarkan sumber-sumber ilmu hadits telah dijelaskan bahwa antara istilah hadits, sunnah, khabar dan atsar ada persamaan dan perbedaan yang bersifat umum dan khusus. Terkadang semua istilah tersebut digunakan sebagai sinonim satu sama lain.
Mengenai polemik kedudukan hadits sebagai wahyu atau tidak, penulis berpendapat bahwa hadits termasuk wahyu ghair matluw yang terpantau ketat oleh ilmu Allah.
Saran-saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat sederhana dan banyak terdapat kekurangan yang disebabkan berbagai kendala. Oleh itu pembaca merujuk lebih lanjut kepada sumber-sumber lain yang memperkaya pengetahuan dan memperdalam pemahaman tentang bahasan tersebut.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Qur’an al-Karim.
Ahmad, Imtiyaz, Dalail al-Tautsiq al-Mubakkir lil Hadits wa al-Sunnah, Mesir: Dar al- Wafa’ li al-thaba’ah wa al- Nasyr wa al-Tauzi’, 1990, cet ke-1
Al-Khatib Muhammad Ajjaj, al-sunnah Qabla tadwin,Beirut: dar al-Fikr, 1981.
———————————, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
al-Mansyawi Muhammad Siddiq, QamusMushthalahat al-Hadits al-Nabawi, (Mesir: Dar al-Fadhilah, t.th)
Al-Mansuri, Muhammad Shiddiq, Qamus Musthalah al-hadits al-Nabawiy, Mesir: Dar al-Fikr, tt.
Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Beirut: al-Dar al-Mishriyah, t.t, jilid XIII .
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghi, t.t: daral-Fikr, t.th, juz ke-25.
Al-munawwir, Ahmad Warson, al-munawwir Kamus Arab-Indonesia,Yogyakarta: Pustaka progressif, 1884
Al-Qardhawy, Yusuf, Kajian Kritis Pemahaman Hadits, Jakarta: Islamuna Press, 1994.
Al-Qasimy, Muhammad Jamaluddin, Mahasin al-ta’wil, Beirut: Dar al-fikr, t.th.
Al-Qhathan, Manna’, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka  Al Kautsar, 2005.
Al-Qusyairi, Abu Husain Muslim Ibn Hajjaj Ibn Muslim, al-Jami’ al-Shahih, Beirut: Dar al-Fikr, t.th juz ke-8.
Al-Thahhan, Mahmud, Taisir fi Mushthalah al-Hadits, tt: Dar al-Fikr, t.th.
Ash- Shidieqy, M. Hasbi,Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1998
Azami, M.M,  Hadits Nabawiy dan Sejarah Kodifikasinya, Jakarta:pustaka Firdaus, 1994.
Hamka, Tafsir al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1992.
M, Buchari, Kaidah Keshahihan Matan Hadits, Padang: Azka, 2004.
Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Jakarta:Gaya Media Pratama.

KAJIAN TERMINOLOGI SUNNAH, HADITS, KHABAR DAN ATSAROleh Melfa Melodi PENDAHULUANSegala puji hanyalah milik Allah yang telah mengutus rasul yang mulia untuk menyampaikan cahanya-Nya kepada umat manusia guna menyelamatkan kehidupan umat manusia tersebut dari dzulumat al jahiliyyah. Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul terakhir diutus oleh Allah    disamping bertugas menyampaikan wahyu juga sekaligus menterjemahkan wahyu itu ke dalam bentuk realitas kehidupan beliau sehari-hari, sebagai suri tauladan bagi para sahabat secara khusus dan bagi seluruh umat islam pada umumnya.Al-Qur’an yang beliau terima tidak mungkin bisa dipahami maksud dan tujuannya tanpa ada penjelasan dari rasulullah Saw. baik berupa penjelasan lisan ataupun penjelasan konkrit melalui sikap, tingkah laku dan perbuatan beliau. Perkataan, sikap dan perbuatan beliau tersebut itulah yang menjadi sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an.Ada beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ucapan,perbuatan dan sikap rasulullah tersebut yaitu; sunnah, hadits, khabar dan atsar. Sehubungan dengan hal ini maka muncullah pertanyaan, kenapa muncul beberapa istilah untuk menggambarkan hal-hal yang berkaitan dengan rasullullah dan kenapa para ulama memberikan definisi yang beragam terhadap istilah-istilah tersebut, lalu bagaimana pula kedudukan perkataan, perbuatan ataupun taqrir dari rasulullah, apakah bisa disebut sebagai wahyu atau bukan ketika dikaitkan dengan ayat: wamaa yantiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyun yuuha?Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka pemakalah mencoba menghimpun pendapat-pendapat para ahli dan menganalisanya sehingga diharapkan tidak muncul kerancuan dalam fikiran dan pemahaman.PENGERTIAN SUNNAH, HADITS, KHABAR DAN ATSAR SECARA BAHASA DAN ISTILAH (PERBEDAAN PENGERTIAN SUNNAH DAN HADITS MENURUT PARA AHLI)
Pengertian SunnahKata  sunnah ( سنة ) berasal dari kata سن .  Kata sunnah secara bahasa berarti: peri kehidupan, perilaku, jalan, cara, metode, tabiat, watak, hadits, lawan makruh. Kata sunnah juga berarti:السيرة  حسنة   كانت أو قبيحة  Artinya: Perjalanan hidup yang dijalani terpuji atau tidak.Suatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah walaupun tidak baik. Berikut hadits yang berkaitan dengan ta’rif ini:حدثني محمد بن المثنى العنزي، أخبرنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن عون بن أبي جحيفة، عن المنذر بن جرير عن أبيه قال: ….”من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء و من سن في الاسلام سنة شيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء……Artinya: (Muslim berkata) ….(riwayat itu) dari bapaknya jarir, dia berkata:…Barangsiapa yang merintis suatu jalan yang baik dalam islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang mengamalkan sesudahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun, dan siapa yang merintis jalan yang buruk dalam islam dia akan menerima dosanya dan juga dosa orang yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. Dalam al-Qur’an pun terdapat kata-kata sunnah, di antaranya bermakna ketetapan: surah al-Isra ayat 77:سنة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ولا تجد لسنتنا تحويلا.Artinya: (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang kami utus sebelum kamudan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.Menurut istilah sunnah memiliki pengertian yang beragam sesuai dengan versi masing-masing para ahli syara’. Menurut para ahli hadits pengertian  sunnah adalah: كل ما أثر عن الرسول ص م من قول، أو فعل، أو تقرير، صفت خلقية أو خلقية، أو سيرة سواؤ أكان ذالك قبل البعثة كتحنثه في غار حراء  أم بعدها .  Artinya : Apa yang disandarkan kepada nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam baik berupa ucapan,perbuatan penetapan, sifat, kelakuan atau sirah beliau baik sebelum kenabian atau sesudahnya.Dengan pengertian ini, menurut mayoritas ulama sunnah sinonim dengan hadits. Dalam pengertian lain disebutkan:كل ما يتصل به من سيرة وخلق وشمائل وإخبار وأقوال وأفعال سواء أثبت المنقول حكما شرعيا أم لا.Artinya: segala sesuatu yang berhubungan dengan sirah (perjalanan hidup) nabi SAW, (budi pekerti, berita, perkataan, perbuatan baik melahirkan syara’ atau tidak.”Mereka mendefenisikan sunnah sebagaimana di atas karena mereka memandang diri Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Karena itu mereka menerima secara utuh segala yang diberitakan tentang Rasulullah SAW tanpa membedakan apakah berhubungan dengan hukum syara’ atau tidak dan tidak memisahkan antara sebelum diutus menjadi rasul atau sesudahnya.Pendapat tersebut didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 21:لقد كان لكم في رسول الله أسووة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيراArtinya: “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat ) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Dalam surah Asy-Syura ayat 52 juga disebutkan:…وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم…Artinya: …dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk  kepada jalan yang lurus…”Sedangkan menurut ahli ushul sunnah berarti:كل ما صدر عن النبي ص م غير القرآن الكريم، من قول أو فعل، أو تقرير، مما يصلح أن يكون دليلا لحكم شرعي.Segala yang bersumber dari nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam selain al Qur’an baik berupa ucapan,perbuatanatau ketetapan yang pantas dijadikan dalil hukum syara’. Ahli ushul membatasi defenisi sunnah pada sesuatu yang bersumber dari nabi yang berkaitan dengan hukum  syara’. Pendapat mereka berdasarkan argumentasi bahwa rasulullah SAW. adalah pembawa dan pengatur undang-undang.  Argumentasi mereka berdasarkan ayat al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 7:وما اتاكم  الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب.Artinya: “…apa yang diberikan rasulullah kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha keras siksaan-nya.”
Menurut ahli fiqh sunnah mempunyai pengertian:كل ما ثبت عن النبي ص م ولم يكون من باب الفرض ولا الواجب.Hal-hal yang berasal dari nabi Sallallahu Alaihu wa Sallam tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan.Pengertian HaditsKata hadist secara bahasa berarti “جديد ” (baru). Dimaksudkan sebagai lawan kata “ قديم ” yang merupakan sifat dari kalam Allah, sedang sabda nabi mempunyai sifat baru yaitu didahului oleh sifat “tidak ada”. Kata hadits juga digunakan dalam perkataan Hadits dapat juga berarti “ الجديد من الأشياء ” (yang baru dari segala sesuatu), hadits merupakan khabar baik sedikit ataupun banyak, jama’nya adalah ” أحاديث ” sewazan dengan “ قطيع “ yang jama’nya adalah “ أقاطيع “ bentuk jamak yang demikian adalah bentuk jamak yang syaz tidak mengikuti cara pembentukan jamak yang baku.Hadits dengan pengertian khabar tersebut dapat dilihat pada:Surah al-Thur ayat 34:فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صدقينArtinya: “ maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’an,  yang jikang  mereka orang-orang yang benar.”Al-Kahfi ayat 6:فلعلك باخع نفسك على اثارهم إن لم يؤمنوا بهذا الحديث أسفاArtinya: “Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena sedih sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman dengan keterangan ini (al-Qur’an)
Secara terminology terdapat beberapa difinisi hadits:Menurut istilah ahli hadits pengertian hadits merupakan sinonim dari sunnah yaitu: ما يروي عن الرسولصلى الله عليه وسلم بعد النبوة من قوله زفعله وتقريرهArtinya : Segala  sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW sesudah kenabiannya berupa ucapan Nabi, segala perbuatan beliau dan segala keadaan beliau.
Yang dimaksudkan dengan Hadits dan sunnah  ialah semua yang bersumber dari Rasulullah S.A.W sebelum dan sesudah masa kerasulan. Namun jika penyebutan dikhususkan kepada hadits maka  yang dimaksudkan adalah sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah S.A.W sesudah bi’tsah / kerasulan, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Oleh sebab itu, bisa difahami bahwa sunnah lebih umum daripada hadits. Sebagian muhadditsun berpendapat bahwa pengertian  hadits di atas terlalu sempit. Menurut mereka hadits mempunyai cakupan lebih luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada Nabi saja, melainkan termasuk yang disandarkan kepada sahabat. Dalam hal ini Turmudzi menyebutkan sebagai berikut:وقيل الحديث لا يختص بالرفوع إليه صلى الله عليه وسلم بل جاء بالموقوف وهو ما أضيف إلى الصحابي والمقطوع وهو ما أضيف للتابعي.Artinya: “dikatakan (dari ahli hadits), bahwa hadits itu bukan hanaya untuk sesuatu yang marfu’ yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW saja, melainkan juga untuk sesuatu yang mauquf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat, dan yang maqtu’, yaitu yang disandarkan kepada tabi’i”Hadits  menurut pendapat ahli ushul mencakup perekataan Rasulullah S.A.W, perbuatan dan ketetapan beliau yang bisa dijadikan dalil hukum syara’. Senada dengan pendapat ini, Buchari menjelaskan bahwa bagi generasi sekarang, anggapan bahwa hadits ialah apa yang disandarkan kepada nabi saja, perlu diperluas dengan memasukan prilaku sahabat dan tabi’in.Pengertian Al-Khabarkata الخبر adalah mufrad, jama’nya adalah الأخبر  secara bahasa berarti: نبأ ( berita )   معلومات (pemberitahuan ). Dalam Lisan al-‘Arab kata khabar bermakna: ما أتاك من نباء عمن تستخبر (berita besar yang sampai kepadamu dari orang yang kamu minta khabar darinya). Sedangkan secara terminology terdapat perbedaan pendapat d kalangan ahli syari’:Khabar merupakan sinonim dari hadits, keduanya mencakup hadist marfu’, mauquf dan maqthu’Khabar berbeda dari hadits:Hadits mengandung keterangan mengenai semua perkataan,  metode  nabi dan yang  ditetapkan dari Nabi. Jadi, khabar bukan hanya dari nabi, tapi dapat juga bersumber dari sahabat.Hadits dihfahami sekitar kepribadiaan rasulullah SAW, mencakup semua masalah yang bersumber dari nabi sedangkan khabar lebih luas Karena mencakup semua keterangan dari mana pun sumbernya.Di antara keduanya ada keterkaitan , setiap hadits adalah khabar dan bukan sebaliknya. Maknanya, khabar lebih umum daripada hadits.Pengertian AtsarKata الأثر  secara bahasa berarti: “ بقية الشيء ” (sisa sesuatu). الأثر juga berarti nukilan, dari pengertian ini doa yang yang dinukilkan dari nabi dinamakan do’a ma’tsur.Atsar menurut istilah ada dua pendapat:Atsar semakna dengan hadits dan khabar.Yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik perkataan, perbuatan maupun penetapan. pengertian ini berkembang pada awal tumbuhnya Islam.Atsar berbeda dengan hadits yaitu apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in baik berupa ucapan dan perbuatan mereka. Ulama fiqih Khurasan menamakan khabar mauquf dengan atsar dan khabar marfu’ dengan khabar.Sedangkan salaf dan mayoritas khalaf mempergunakan istilah ini untuk riwayat secara mutlak, baik dari rasulullah SAW. maupun dari sahabat.Di antara yang berpendapat tentang keumuman pengertian atsar adalah Abu Ja’far al-Thahawiy dalam karyanya , Tahzib al-Atsar, dan Ibn jarir al-rhabary dalam kitabnya Syarh Ma’any al-Atsar al-mukhtalifat al- Ma’tsurah dan Ahmad baihaqiy dalam karyanya Ma’rifat al-sunan wa al-Atsar.C. PENDAPAT YANG MEMBEDAKAN ANTARA HADITS DAN SUNNAHLatar belakang perbedaan defenisi Sebagaimana telah dijelaskan dalam bahasan defenisi hadits dan sunnah, para ahli berpendapat bahwa sunnah merupakan Apa yang disandarkan kepada nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam baik berupa ucapan,perbuatan penetapan, sifat, kelakuan atau sirah beliau baik sebelum kenabian atau sesudahnya. Sedangkan ahli ushul membatasi sunnah dengan keterkaitannya dengan hukum syara’, dengan kata lain sunnah merupakan segala ucapan atau perbuatan nabi saw.,  yang semuanya dalam rangka menetapkan hukum-hukum syara’. Hal ini disebabkan karena mereka hanya mengkaji rasulullah sebagai penetap hukum syara’ yang menjelaskann hukum yang ada dalam al-Qur’an.Apabila dianalisa lebih teliti perbedaan defenisi hadits atau sunnah tersebut bermula dari perbedaan pandangan mereka dalam memandang hadits dan perbedaan latar belakang keilmuan yang mereka geluti serta perbedaan analisa mereka terhadap dalil yang mengharuskan umat Islam mengikuti segala sesuatu yang berasal dari nabi.Para muhadditsun memahami perintah Allah secara utuh, jadi apa saja yang dating dari rasulullah mereka fahami sebagai hadits yang harus diamalkan. Sedangkan para ahli ushul berpendapat bahwa hadits terbatas pada hal-hal yang menyangkut kepentingan umat yang berdaya hukum. Sedangkan perbuatan, perkataan dan ketetapan yang tidak berdaya hukum, bukan termasuk hadits karena banyak yang berhubungan dangan kebiasaan pada masa itu. Seperti memakai sorban, laki-laki memakai celak dan lainnya. Tentunya ini membawa konsekuensi ada hadits yang diterima oleh muhadditsun tidak diakui oleh ahli ushul sebagai hadits. Para muhadditsun mengamalkan  cara berpakaian nabi karena memandang itu sebagai hadits, sedangkan ahli ushul tidak menganggap hal itu sesuatu yang harus diikuti.Pendapat tentang perbedaan hadits dan sunnahPerbedaan kedua istilah ini dapat dilihat dari sisi etimologi. Hadits berarti baru, perkataan dan berita. Sedangkan sunnah berarti jalan, baik atau buruk. Setiap orang yang memulai sesuatu lalu diikuti oleh orang sesudahnya maka disebut orang tersebut melakukan sunnah. Bila dilihat dari sudut terminology tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hadits merupakan sinonim sunnah. Namun penekanan hadits lebih kepada apa yang disandarkan kepada Nabi SAW setelah kenabian. Maknanya, sunnah lebih umum daripada hadits.  Pada zaman Nabi hadits merupakan penguat dari sunnah. Sunnah menunjukkan –dalam penegrtian yang mendasar- kepada amalan nabi SAW, sedangkan hadits  pencatatan dan penguat sunnah. Akan tetapi lapangan hadits bukan hanya terbatas pada pencatatan perbuatan saja, namun juga mencakup perkataan dan perbuatan Nabi, sehingga dikenal ada hadits qauly, hadits fi’ly dan hadits taqririy. Imam Malik juga membedakan kedua. Beliau lebih mengutamakan sunnah daripada hadits. Pada abad kedua Hijriyah mulai adanya penyempitan makna sunna yang dikhususkan kepada tradisi rasul SAW saja. Sejak itlah berkembang pengertian ulama bahwa hadits dan sunnah adalah semakna. Dari sini dapat difahami bahwa tidak selalu sunnah itu sesuai dengan hadits. Perbedaan ini memberika konsekuensi yang terkadang terdapat hadits berbeda dengan sunnah amaliyah. Hadits adalah semua peristiwa yang disandarkan kepada Nabi SAW walau dilakukan hanya satu kali dan diriwayatkan satu orang saja. Adapun sunnah merupakan sebutan bagi amaliyah mutawatir. Menanggapi hal ini, ulama berusaha mengkompromikan keduanya dan dan juga yang ,mentarjihkan salah satu dari keduanya. Hal ini tergambar dalam perkataan  Abdurrahman bin Mahdi bahwa  ia tidak melihat orang yang lebih alim tentang 4dengan hammad bin Zaid. Ahli hadits banyak memakai kata hadits, sedangkan ahli ushul lebih banyak memakai istilah sunnah.HADITS ANTARA WAHYU ATAU BUKAN DIKAITKAN DENGAN AYAT :وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى ( النجم 3 )“Nabi tidak berkata menurut hawa nafsunya, tapi  apa yang dikatakan tidak lain adalah wahyu yang diberikan”.
Dalam menanggapi masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa hadits adalah termasuk wahyu dan ada pula yang berpendapat bahwa hadits bukanlah wahyu.Hadits Nabi Termasuk Wahyu Allah SWTTerkait dengan Firman Allah dalam surat An Najm ayat 3-4 di atas Al Maraghi menjelaskan bahwa Nabi tidaklah berbicara berdasarkan kemauannya sendiri dan hawa nafsunya karena semua yang dikatakannya adalah benar. Nabi menyebutkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT dan menyampaikannya kepada manusia secara sempurna dan langsung tanpa ditambah atau dikurangi. Muhammad ‘Ajjaj al khatib berpendapat: bahwa segala sesuatu yang berasal dari rasulullah selain al Qur’an  yang menjelaskan hukum syari’ah dan menjelaskan kandungan al Qur’an serta penerapannnya, dia adalah hadits atau sunnah yang didasari wahyu dari Allah atau ijtihad rasulullah, ketahuilah bahwa rasulullah saw. tidak menetapkan ijtihad dengan kesalahan, maka dengan demikian sunnah termasuk wahyu. Al Qur’an  al-karim adalah wahyu matluw yang berpahala membacanya sedangkan sunnah adalah wahyu gairu matluw dan tidak berpahala membacanya.Hadits Nabi Tidak Termasuk Wahyu Allah SWTAl-Qasimi dalam kitabnya menyebutkan bahwa yang dimaksudkan oleh firman Allah surat al-Najm ayat 3 adalah bahwa Nabi SAW tidak akan berkata tentang al-Qur’an berdasarkan hawa nafsunya. Dan dhamir huwa pada ayat ke 4 adalah kembali kepada al-Qur’an. Hal ini menurut beliau menolak argument ulama yang berpendapat bahwa hadits Nabi termasuk wahyu. Beliau juga berpendapat , bagaimana mungkin hadits merupakan wahyu sedangkan Nabi SAW sering melakukan ijtihad dalam beberapa masalah yang dihadapi umat Islam pada waktu. Seperti masalah strategi perang, tawanan dan lain sebagainya. Ayat di atas tidak melarang  Nabi melakukan ijtihad. Hamka dalam tafsirnya –berkaitan dengan tafsiran surat an-najm ayat 3- menyebutkan bahwa segala tutur kata rasulullah tidak terlepas dari batas-batas wahyu. Apabila dikaitkan dengan ayat 44, 45, 46, suratal-Haqqah dapat dimengerti bahwa nabi SAW. Tidak boleh berkata dengan sesuka hatinya yang berakibat bertentangan dengan wahyu Allah SWT. Karena tangan kanan nabi akan ditarik dan tali jantungnya akan diputuskan bila beliau bertutur kata keluar dari garis wahyu. Oleh karena itulah disimpulkan bahwa hadits rasul bukan termasuk wahyu.          Menghadapi kontroversi yang terjadi, menurut analisa penulis kedua pendapat diatas dapat dikompromikan. Dalam arti kata hadits nabi tetap merupakan wahyu yang ghairu matluw, namun nabi tetap juga tidak dilarang berijtihad. Dalam berijtihad nabi tetap berada dalam pengawasan Allah SWT. Sehingga bila ijtihad nabi tersebut salah maka akan datang teguran dan pembetulan dari Allah SWT. Dengan adanya dua macam wahyu dari Allah SWT. Yakni ada yang lafadz dan maknanya dari Allah dan ada yang hanya maknanya saja dari Allah dan lafadznya dari nabi memberi faedah yang tidak kecil. Karena bila wahyu yang diturunkan hanya dalam bentuk al-Qur’an maka akan menimbulkan kesulitan dalam penghapalan lafadz-lafadznya. sedang apabila diturunkan seperti hadits saja, maka akan berakibat timbulnya keragu-raguan bagi umat islam dan juga akan menjadi bahan penghancuran islam bagi musuh-musuh islam dengan menghembuskan issue bahwa ajaran Islam tidak asli sudah dirubah dan dipalingkan maknanya oleh  umat Islam dahulu.
HADITS QUDSISecara bahasa Qudsi dinisbatkan kepada qudus yang artinya suci, yaitu sebuah perkataan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan atau penyadaran kepada dzat Allah yang Mahasuci. Kata-kata tersebut dalam bahasa menunjukkan arti الطهارة والتنزية )kesucian dan kebersihan(. Dalam al-Qur’an terdapat pada surat al-Baqarah ayat 30 :…..ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك….Artinya: “…(kata malaikat) Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau..”Secara istilah hadits qudsi adalah:كل حديث يضيف فيه الرسول صلى الله عليه وسلم قولا إلى الله عز وخل يسمى بالحديث القدسي أو الالهيsetiap hadits yang  rasulullah saw.menyandarkan perkataannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dinamakan hadits Qudsi. Pengertian lain dari hadits Qudsi adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw. yang sanadnya sampai kepada Allah SWT. Dengan kata lain semua yang dibangsakan nabi kepada Allah SWT, jadi nabi meriwayatkan hadits ini adalah firman-Nya dengaan redaksi atau lafaz dari nabi sendiri.Agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam memahami hadits nabawi, hadits qudsi dan wahyu Allah berupa al-Qur’an berikut penulis akan menjelaskan persamaan dan perbedaan hadits qudsi dengan hadits nabawi serta dengan al-Qur’an.Persamaan dan perbedaan hadits Qudsi dengan hadits nabawiPersamaan hadits Qudsi dengan hadits nabawi, di antaranya:Kedua hadits ini mengandung wahyu dari Allah SWT. Hal ini bagi ulama yang berpendapat hadits merupakan wahyu.Kedua lafaz hadits ini dari Rasulullah SAW, walupun penyandarannya ada yang kepada Nabi dan ada yang sampai kepada Allah SWT.Perbedaan hadits Qudsi dengan hadits nabawi.Sanad hadits Qudsi sampai kepada Allah, sedangkan hadits Nabawi tidak. Untuk mengidentifikasinya,pada hadits Qudsi terdapat kata-kata :قال رسول الله ص م فيما يرويه عن ربهقال رسول الله ص م قال الله عز وجلHadits Qudsi biasanya tergolong hadits ahad, sedangkan hadits nabawi ada yang mutawatir, masyhur dan ahad.Persamaan dan perbedaan hadits Qudsi dengan al-Qur’anPersamaan hadits Qudsi dengan al-Qur,anBaik hadits Qudsi atau al-Qur’an keduanya bersumber dari Allah SWT, yang karenanya hadits Qudsi ini disebut hdits Ilahy.Perbedaan hadits Qudsi dengan al-Qur’anAl-Qur’an merupakan mu’jizat sedangkan hadits Qudsi bukan.Al-Qur’an makna dan redaksinya langsung dari Allah SWT, sedangkan hadits Qudsi maknanya dari Allah, redaksinya dari Nabi SAW.Dalam shalat al-Quran merupakan bacaan yang diwajibkan dan tidak berlaku dalam hadits Qudsi.Al-Quran diturunkan melalui perantaraan malaikat jibril sedangkan hadits Qudsi langsung melalui ilham atau mimpi.Al-Qur’an qath’I dilalah dan qath’I tsubut sedangkan hadits Qudsi kebanyakan hadits ahad yang bersifat zhanni tsubut.Membaca Al-Qur’an dinilai ibadah sedangkan hadits Qudsi tidak.
PENUTUPKesimpulanBerdaasarkan sumber-sumber ilmu hadits telah dijelaskan bahwa antara istilah hadits, sunnah, khabar dan atsar ada persamaan dan perbedaan yang bersifat umum dan khusus. Terkadang semua istilah tersebut digunakan sebagai sinonim satu sama lain. Mengenai polemik kedudukan hadits sebagai wahyu atau tidak, penulis berpendapat bahwa hadits termasuk wahyu ghair matluw yang terpantau ketat oleh ilmu Allah.Saran-saran Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat sederhana dan banyak terdapat kekurangan yang disebabkan berbagai kendala. Oleh itu pembaca merujuk lebih lanjut kepada sumber-sumber lain yang memperkaya pengetahuan dan memperdalam pemahaman tentang bahasan tersebut. DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Qur’an al-Karim.Ahmad, Imtiyaz, Dalail al-Tautsiq al-Mubakkir lil Hadits wa al-Sunnah, Mesir: Dar al- Wafa’ li al-thaba’ah wa al- Nasyr wa al-Tauzi’, 1990, cet ke-1Al-Khatib Muhammad Ajjaj, al-sunnah Qabla tadwin,Beirut: dar al-Fikr, 1981.———————————, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1989.al-Mansyawi Muhammad Siddiq, QamusMushthalahat al-Hadits al-Nabawi, (Mesir: Dar al-Fadhilah, t.th)Al-Mansuri, Muhammad Shiddiq, Qamus Musthalah al-hadits al-Nabawiy, Mesir: Dar al-Fikr, tt.Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Beirut: al-Dar al-Mishriyah, t.t, jilid XIII .
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghi, t.t: daral-Fikr, t.th, juz ke-25.Al-munawwir, Ahmad Warson, al-munawwir Kamus Arab-Indonesia,Yogyakarta: Pustaka progressif, 1884Al-Qardhawy, Yusuf, Kajian Kritis Pemahaman Hadits, Jakarta: Islamuna Press, 1994.Al-Qasimy, Muhammad Jamaluddin, Mahasin al-ta’wil, Beirut: Dar al-fikr, t.th.Al-Qhathan, Manna’, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka  Al Kautsar, 2005.Al-Qusyairi, Abu Husain Muslim Ibn Hajjaj Ibn Muslim, al-Jami’ al-Shahih, Beirut: Dar al-Fikr, t.th juz ke-8. Al-Thahhan, Mahmud, Taisir fi Mushthalah al-Hadits, tt: Dar al-Fikr, t.th.Ash- Shidieqy, M. Hasbi,Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1998Azami, M.M,  Hadits Nabawiy dan Sejarah Kodifikasinya, Jakarta:pustaka Firdaus, 1994.Hamka, Tafsir al-Azhar, Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1992.M, Buchari, Kaidah Keshahihan Matan Hadits, Padang: Azka, 2004.Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 1999.Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Jakarta:Gaya Media Pratama.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: