KHAWARIJ DAN MURJI`AH Oleh : Nazirman

Pendahuluan

Nazirman

Persoalan yang mula-mula muncul dikalangan umat  Islam  setelah wafatnya Rasulullah SAW bukanlah  persoalan ibadah ataupun masalah akidah, namun persolan politik. Persolan dimaksud adalah  siapa yang layak dan patut dijadikan sebagai pemimpin umat untuk melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW?  Fakta sejarah  mencatat  bahwa setelah Nabi wafat, pucuk kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Khulafaurrasyidin yang dimulai semenjak  Abu Bakar Siddiq sampai dengan Ali Bin Abi Thalib. Situasi dan kondisi ini mendapat respon yang berbeda dari kalangan umat Islam, bahkan memicu  reaksi pada kelompok lain yang menganggap bahwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pengganti nabi merupakan  tindakan yang sangat tergesa-gesa dan tanpa berunding dengan ahlul bait,  sementara ahlul bait sedang sibuk mengurus  pemakaman nabi.

Penolakan ini lebih kentara lagi ketika Ali melanjutkan kepemimpinan Usman bin Affan, ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dengan Umaiyah bin Abi Syofiyan dalam sebuah perperangan yang popular dengan Perang Shiffin tahun 37 H/648M  terkait dengan  persengketaan khilafah.  Dalam perperangan ini berbagai respon yang ditimbulkan sebagai efek konsekwensi logis dari abitrase  (tahkim) yang diterima oleh Ali. Setidak-tidaknya ada tiga kelompok yang muncul dalam menyikapi hal tersebut antara lain kelompok yang proaktif  serta  menerima Abitrase, mereka ini dikenal dengn Syi`ah. Kelompok kedua kelompok yang menolak tahkim  dan kelur dari barisan Ali yang dikenal dengan kelompok khawarij. Sedagkan kelompok yang ketiga adalah kelompok yang netral nonblok atau tidak memihak , mereka dikenal dengan Murjiah.
Dalam penjabaran makalah ini,  penulis akan  membahas dan memaparkan dua kelompok saja  yaitu Khawarij dan Murji`ah . Dalam pembahasan ini penulis membatasi pembahasan  yang meliputi  pengertian dan  pengunaan istilah Khawarij dan Murji`ah secara etimologi dan terminology, bentuk  dan pendirian, ajaran dari sekte-sekte yang ada pada kedua kelompok tersebut.Kemudian penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.
Pembahasan
Pengertian
Khawarij secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu Kharaja yang berarti keluar,muncul, timbul atau memberontak. Murjiaah berasal dari kata-kata irja atau arjaa yang berarti penundaan, penagguhan dan pengharapan.
Secara Terminologis khawarij merupakan suatu sekte atau kelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan Ali karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima Abitrase (tahkim) dalam perang shiffin pada tahun 37 H/648M dengan kelompok muawiyah bin Abi Syofiyan perihal persengketaan khilafah.
Dapat pula diartikan khawarij keluar yang ditujukan bagi orang-orang yang keluar barisan Ali karena tidak setuju terhadap Ali yang menerima tawaran gencatan senjata lewat abitrase atau tahkim.1
Sedangkan Murji`ah adalah kelompok yang menunda penjelasan kedudukan orang yang bersengketa yakni Ali bin Abi Thlib dan Muawwiyah bin Abi Syofiyan serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.
Jadi dari pengertian di atas jelaslahlah bahwa kelompok yang menetang Ali dan dan menyatakan diri keluar dari barisan Ali karena Abitrase disebut khawarij dan kelompok yang menangguhkan untuk member vonis atau bersifat nentral terhadap apa yang terjadi atau tindakan dan kebijakan Ali menrima tahkim (abitrase) pada perang Shiffin disebut Murji`ah. Dari itu pula dapat diketahui bahwa pergolakan politik yang terjadi dikalangan umat Islam yang pada akhirnya merebak kepersoalan theologies bermula dari perseteruan antara Ali dan Muawwiyah dalam hal khilafah.
Pokok Ajaran
Pokok-pokok Ajaran Khawarij.
Ajaran pokok Khawarij umumnya berkisar pada masalah khilafah (Politik Ketatanegaraan), dosa besar, kafir dan amal perbuatan umat Islam. Tentang khilafah ,Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. Khalifah tidak harus dari keturunan Arab. Khalifah dipilih secara permanen selama bersikap adil dan menjalankan syari`at Islam, ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezhaliman. Khawarij mengakui dua khalifah yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Karena meurut aliran ini khalifah ini diangkat secara demokratis dan memerintah sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi mereka menganggap Usman telah menyelewengkan kekuasaannya sejak tahun ketujuh masa kekalifahannya dan Ali dianggap menyeleweng karena peristiwa abitrase. Sejak saat itulah mereka menganggap kafir demikian pula dengan orang-orang yang menyetujui dan menerima hasil abitrase tersebut. Orang yang melakukan dosa besar tidak lagi Islam, akan tetapi kafir atau murtad dan wajub dijatuhkan hukuman mati.
Pokok-pokok Ajaran Murji`ah
Adanya keterpihakan kelompok pada pertentangan tentang Ali bin Abi Thalib, muncul kelompok lainnya yang menentang dan beroposisi terhadapnya. Begitu pula terhadap orang-orang yang netral, baik karena mereka menganggap perang saudara ini suatu fitnah(bencana) lalu mereka berdiam diri, atau mereka bimbang untuk menetapkan haq dan kebenaran pada kelompok yang ini atau itu.
Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.
Murji`ah baik sebagai kelompok politik maupun teologis diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan syi`ah dan khawarij. Pada mulanya Murji`ah merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan menyerahkan penentuan hokum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.
Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji’ah adalah:
Mukmin dan Kafir
Murji`ah tidak sependapat dengan Khawarij yang menjatuhkan hukuman kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum murjiah menjatuhkan hokum mukmin.
Dosa Besar
Pelaku dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah Dia akan mengampuninya atau tidak.
Aliran Murji`ah menagguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat  dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap sebagai seorang mukmin.Karena orang mukmin yang melakukan dosa besar itu tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar  utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Begitun pula prisip kelompok murji`ah selama meyakini dua kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.
Sekte-sekte  Khawarid dan Murji`ah
Sekte-sekte Khawarij
Dalam perkembangannya Khawarij terbagai pada beberapa sekte atau subsekte yang meliputi sekte Al-Muhakimah, Al-Azriqah,An-Nadjat, Al-Baihasiyah, Al-Ajaridah, Al-Ibadiyah dan As-Sufriyah.
Al-Muhakimah; merupakan golongan Khawarij pertama. Mereka adalah orang-orang yang memisahkan diri dari Ali bin Abi Thalib setelah terjadinya Tahkim. Golongan ini pada mulanya dipimpin oleh Abdullah bin al-Kawa` dan Syabas bin Riya`. namun setelah mereka pindah ke Nahrawan mereka mengangkat dua orang pemimpin yaitu Abdullah bin Wahab ar_Rasiby dan Harqush bin Zuhair Al-Bajly. Golongan ini berpendirian  bahwa Muawiyah dan pengentara Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy`ari serta semua yang menyetujui perdamaian atau atu abitrase bersalah dan dihukum kafir. Meraka menganggap kafir orang-orang yang berbuat dosa besar.
Al-Azariqah, merupakan kelompok yang lebih radikal, mereka tidak lgi memakai istilah kafir tetapi musyrik. Di dalam Islam syirik merupakan dosar besar lebih besar dari kafir.  Mereka juga berpendapat bahwa seluruh umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka dianggap musyrik. Penamaan sekte ini dinisbahkan kepada nama pemimpin mereka Abu Rasyid Nafi Bin Al-Azraq.
An-Najadat Aziriyah; Sekte ini dipimpin oleh Najadat Ibnu Amir Hanifah dari Yamamah yang memisahkan diri dari Al-Azariqah dikarenakan tidak sependapat dengan paham; bahwa orang azzraqi yang tidak mau berhijrah ke dalam lingkungan al-azriqah adalah musyrik. Paham kelompok ini adalah orang yang melakukan dosa besar yang menjadi kafir  dan kekal dalam neraka adalah orang-orang yang tidak sepaham dengan aliran mereka.
Al-Ajaridah ; Sekte ini di pimpin oleh Abdul al-Karim bin `Ajarad. Kelompok ini lebih moderat. Menurut mereka berhijrah bukan suatu kewjiban, namun kebajikan. Kaum al-Ajaridah boleh tinggal di luar kekuasaan mereka dan tidak dianggap kafir. Mengenai pemanfatan harta yang boleh dijadikan harta rampasan perang hanyalah harta orang yang mati dalam perperangan. Anak kecil tidak wajib diseur kecuali setelah mereka baligh. Adapun pelaku dosa besar tetap menganggapnya kafir.
Al-Ibadiyyah; kelompok yang dipimpin oleh Abdullah bin Abad. Kelompok ini  sangat sederhana dalam kepercayaan dan dekat dengan Ahlulssunnah. Paham mereka antara lain: orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukanlah musyrik, tetapi kafir.Dengan orang yang demikian boleh  melakukan hubungan perkawinan dan warisan, syahadat mereka dapat diterima. Membunuh mereka adalah haram. Membolehkan saksi, menikah dan salingmewarisi dengn golongan yang bukan golongan mereka. Orang Islam yang melakukan dosa besar adalah muwahid, yng mengesakan Tuhan, tetapi bukan mukmin dan bukan pula kafir al-Millah yaitu kafir agama. Yang boleh dirampas dalam perperangan hanyalah kuda dan senjata. Emas dan perak harus dikembalikan kepada sipemiliknya.
Al-Sufriyah;merupakan pengikut dari Ziyad bin Al-Asfar. Mereka berpendirian bahwa mereka yang tidak berhijrah tidak dipandang kafir. Daerah yang tidak sepaham tidak dianggap sebagai daerah perang. Perempuan dan anak-anak tidak boleh menjadi tawanan. Anak-anak kaum musyrikin tidak dibunuh dan tidak dikafirkan dan tidak pul kekal di dalam neraka.
Dari sekte-sekte Khawarij dalam perkembangannya dapat diidenti-fikasi melalui  beberapa cirri khusus yang memiliki indikasi sebagai berikut:
Ali bin Abi Thalib, Utsman, dan para pengikut Perang Shiffin, serta mereka yang setuju dengan adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah dihukum kafir oleh kaum Khawarij.
Setiap umat Muhammad yang berbuat dosa besar dan hingga meninggal belum bertobat, mereka dianggap mati kafir dan kekal di dalam neraka
Diperbolehkan tidak mengikuti dan tidak mentaati aturan-aturan seorang kepala negara (khalifah) yang zalim dan pengkhianat.
Tidak ada hukum selain yang bersumber dari Al-Quran (mereka menolak hadis).
Anak-anak orang kafir yang mati sebelum balig tetap masuk neraka, karena dihukumi kafir seperti induknya.
Semua dosa adalah besar, tidak ada dosa yang kecil.
Ibadah termasuk rukun Iman.
Siti Aisyah (isteri Rasulullah saw.) terkutuk karena Perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib tidak sah menjadi khalifah setelah tahkim dan lain-lain
Sekte-sekte Murji`ah.
Asal usul kemunculan kelompok Murji`ah  disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor politik dan teologis (Ke-Tuhanan). Faktor politik sangat erat kaitannya dengn persoalan khilafah yang membawa perpecahan di kalangan umat Islam pasca terbunuhnya Usman bin Affan dan dipicu pula  dengan pertikaian antara Ali dan Mu`awiyah dalam peristiwa perang siffin yaitu tahkim atau abitrase atas usulan Amru bin `Ash, seorang kaki tangan (juru bicara dan kepercayaan) Mu`awiyah. Persolan teologi terkait dengan dosa besar yang ditimbulkan oleh Khawarij. Persoalan ini berlanjut kepada persoalan ketuhanan.
Dalam perkembangannya kaum Murji`ah terpecah menjadi dua digolongkan atau kelompok yatitu golongan moderat dan ekstrim.
Golongan Moderat
Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada kemungkinan bahwa Tuhan akan meng-ampuni dosanyan dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali.
Golongan Murji`ah moderat termasuk Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn `Ali bin Abi Thalib, Habu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadis. Menurut golongan ini, bahwa orang Islam yang berdosa besar masih tetap mukmin. Dalam hubungan ini Abu Hanifah mendefinisikan Iman sebagai berikut: Iman adalah pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan,Rasul-Rasul-Nya dan tentang segala yang datang dari Tuhan dan keseluruhan tidak dalam perincian iman tidak menpunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada perbedaan manusia dalam hal iman.
Dengan gambaran seperti itu, maka iman semua orang Islam dianggap sama, tidak ada perbedaan antara iman orang Islam yang berdosa besar dengan orang Islam yang patuh menjalankan perintah-perintah Allah. Jalan fikiran yang dikemukakan oleh Abu Hanifah itu dapat membawa kesimpulan bahwa perbuatan kurang penting dibanding dengan Iman.
Golongan Ekstrim
Kelompok Murji`ah ekstrim dapat dikelompokan pada bebrapa golongan  yaitu Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah dan Al-Hasaniyah. Masing-masing kelompok memiliki pemikiran dan pendirian yang berbeda pula sebagaimana penjelasan berikut:
Al-Jahmiyah
Kelompok Al-Jahmiyah dipimpin oleh Jahm bin Safwan dan pengikutnya disebut al-Jahmiyah. Mereka berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan, kemudian menya-takan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan iman tempatnya bukan dalam tubuh manusia tetapi dalam hati sanubari. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa orang yang menyatakan iman, meskipun menyembah berhala, melaksanakan ajaran-ajaran agama Yahudi dengan menyembah berhala atau Kristen dengan menyembah salib, menyatakan percaya pada trinitas, kemudian mati, tidaklah menjadi kafir.Melainkan tetap mukmin dalam pandangan Allah.
Ash-Shalihiyah
Pimpinan kelompok ini adalah Abu Al-Hasan Al-Salihi. Baginya dan para pengikutnya  berpendapat Iman adalah mengetahui Tuhan dan Kufur adalah tidak tahu pada Tuhan. Dalam pengertian bahwa mereka sembahyang tidaklah ibadah kepada Allah, karena yang disebut ibadat adalah iman kepada-Nya, dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
Al-Yunusiyah
Kelompok Yunusiah merupakan pengikut Yunus Ibnu `Aunan Numairi yang berpendapat bahwa “iman” itu mengenai Allah dan menundukkan diri kepada-Nya dan mencintai-Nya sepenuh hati. Apabila sifat-sifat tersebut sudah terkumpul pada diri seseorang, maka dia adalah mukmin. Adapun sifat-sifat lainnya, seperti “taat” bukanlah termasuk iman, dan orang yang meninggalkan bukanlah iman, dan orang yang meninggalkan ketaatan tidak akan disiksa karenanya, asalkan saja imanya itu benar-benar murni dan keyakinannya itu betul-betul benar.
Al-Hasaniyah
Kelompok ini mengatakan bahwa, “saya tahu Tuhan melarang memakan babi, tapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini,” maka orang tersebut tetap mukmin bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan,”saya tahu Tuhan mewajibkan haji ke Ka`bah, tetapi sya tidak tahu apakah Ka`bah di India atau di tempat lain,”orang yang demikian juga tetap mukmin..
Dengan demikian ajaran pokok Murji`ah pada dasarnya terinspirasi dari gagasan irja` atau arja`a yang diaplikasikan dalam berbagai persoalan, baik persolan politik maupun teologis. Di bidang politik dokrin irja` diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murji`ah dikenal pula dengan The Queitists( kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi jauh sehingga membuat Murji`ah selalu diam dalam persolan politik.
Secara umum kelompok Murji`ah menyusun teori-teori keagamaan yang independen, sebagai dasar gerakannya yang intisarinya sebagai berikut:
Iman adalah cukup dengan mengakui dan percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan sesuatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap sebagai mukmin walaupun ia meninggalkan apa yang dipardukan kepadanya dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar.
Dasar keselamatan adalah iman semata-mata. Selama masih ada iman di hati, maka setiap maksiat tidak akan mendatangkan mudharat ataupun gangguan atas diri seseorang dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.
Dapat dipahami bahwa kelompok Murji`ah memandang bahwa perbuatan atau amalan tidaklah sepenting iman yang kemudian meningkat pada pengertian bahwa hanyalah iman yang penting dan yang menetukan mukmin atau tidak mukminnya seseorang; perbuatan-perbuatan tidak memiliki pengaruh. Iman letaknya di hati seseorang dan tidak diketahui manusia lain. Selanjutnya perbuatan-perbuatan manusia tidak menggam-barkan apa yang ada di hatinya. Oleh karena itu ucapa-ucapan dan perbuatan-perbuatan seseorang tidak mesti mengandung arti bahwa ia tidak memiliki iman. Yang penting ialah iman ada dalam hati. Dengan demikian ucapan dan perbuatan-perbuatan tidak merusak iman seseorang.
Untuk mendeteksi spesifikasi dan identitas kelompok atau paham Murji`ah dapat dikenal dari indikasi sebagai berikut:
Penagguhan keputusan Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di Akhirat.
Penagguhan Ali untuk menduduki rengking keempat dalam peringkat Al-Khulafaurrasyidin.
Giving Hope (Pemberian harapan) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
Dokrin-dokrin Murji`ah meyerupai pengajaran para skeptis da empiris dari kalangan helenis.
Kemudian Harun Nasution menyebutkan ada empat pokok dokrin dalam teologi Murji`ah yaitu:
Menunda hukuman atas Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Syofiyan, Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy`ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat kelak.
Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
Mengutamakan iman dari pada amal.
Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk  memperoleh ampunan  dan rahmat dari Allah.
PENUTUP
Simpulan
Dari penjelasan terdahulu dapat disimpulkan bahwa yang melatari atau asal usul kemunculan Khawarij dan Murjiah berawal dari pertikaian politik ketatanegaraan (Khilafah) yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Syofiyan pada perang Siffin dengan adanya Abitrase (Tahkim) yang diusulkan oleh Amru bin Ash.
Dari segi pengertian baik secara etimologi dan terminology istilah Khawarij dan Murji`ah  berasal dari bahasa Arab. Khawarij dari kata-kata Kharaja; Keluar sedangkan Murji`ah dari kata-kata Irja` yang bermakna menangguhkan, menunda dan pengharapan. Secara terminology khawarij adalah kelompok atau golongan yang mulanya seti bersama Ali keluar dan memisahkan diri bahkan menjadi oposisi atau menentang Ali karena tidak sepaham dan setuju atas sikap Ali menerima Abitrase (Tahkim). Sedangkan Murji`ah; kelompok yang menagguhkan menilai dan memberi vonis terhadap apa yang dilakukan Ali dan Muawiyah.
Dalam perkembangannya, Kedua  kelompok ini berawal dari persolan politik kemudian berakhir kepada persolan teologis, mulai dari persolan iman dan keyakinan sampai kepada persolan neraka dan posisi manusia yang berdosa di hadapan Tuhan. Kedua kelompok ini juga memiliki sekte dan sub sekte yang cukup banyak sebagaimana yang dikemukakan pada pembahasan terdahulu.
Saran dan Harapan
Makalah ini disadari masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi kupasan dan kedalaman bahasan maupun sistematika penulisan.Oleh karenanya kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca dan pembahas sangat diharapkan. Atas perhatiannya penulis haturkan terima kasih.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Tafsir,Ahmad, Materi Pendidikan Agama Islam, PT. Remaja  Rosdakarya:Bandung,2001
Nasution,Harun, Teologi Islam:Sliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,UI-Press,Jakarta, 1986
A`la Al- Maududi ,Abu,Khilafah dan Kerajaan,Penerbit Kharisma, Badung: 2007
Rozak ,Abdul dan Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,CV Pustaka Setia, Bandung,2007. Hal.56
Nata, Abuddin, Ilmu Kalam,Filsafat dan Tasawuf,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta,1995
Muhammad Asy Syakaah, Mustafa,Islam tidak bermazhab, Gema Insani Press, Jakarta, 1994
Daulay,Ahmad, Ilmu Kalam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1997
Aziz Dahlan, Abdul,Teologi dan Akidah Islam, IAIN Press, Padang,2001
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid II,PT. Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta. 2003

KHAWARIJ DAN MURJI`AH(Pokok-pokok Ajaran dan Sekte-sektenya)
Oleh : Nazirman
Pendahuluan Persoalan yang mula-mula muncul dikalangan umat  Islam  setelah wafatnya Rasulullah SAW bukanlah  persoalan ibadah ataupun masalah akidah, namun persolan politik. Persolan dimaksud adalah  siapa yang layak dan patut dijadikan sebagai pemimpin umat untuk melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW?  Fakta sejarah  mencatat  bahwa setelah Nabi wafat, pucuk kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Khulafaurrasyidin yang dimulai semenjak  Abu Bakar Siddiq sampai dengan Ali Bin Abi Thalib. Situasi dan kondisi ini mendapat respon yang berbeda dari kalangan umat Islam, bahkan memicu  reaksi pada kelompok lain yang menganggap bahwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pengganti nabi merupakan  tindakan yang sangat tergesa-gesa dan tanpa berunding dengan ahlul bait,  sementara ahlul bait sedang sibuk mengurus  pemakaman nabi.Penolakan ini lebih kentara lagi ketika Ali melanjutkan kepemimpinan Usman bin Affan, ketika terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dengan Umaiyah bin Abi Syofiyan dalam sebuah perperangan yang popular dengan Perang Shiffin tahun 37 H/648M  terkait dengan  persengketaan khilafah.  Dalam perperangan ini berbagai respon yang ditimbulkan sebagai efek konsekwensi logis dari abitrase  (tahkim) yang diterima oleh Ali. Setidak-tidaknya ada tiga kelompok yang muncul dalam menyikapi hal tersebut antara lain kelompok yang proaktif  serta  menerima Abitrase, mereka ini dikenal dengn Syi`ah. Kelompok kedua kelompok yang menolak tahkim  dan kelur dari barisan Ali yang dikenal dengan kelompok khawarij. Sedagkan kelompok yang ketiga adalah kelompok yang netral nonblok atau tidak memihak , mereka dikenal dengan Murjiah.Dalam penjabaran makalah ini,  penulis akan  membahas dan memaparkan dua kelompok saja  yaitu Khawarij dan Murji`ah . Dalam pembahasan ini penulis membatasi pembahasan  yang meliputi  pengertian dan  pengunaan istilah Khawarij dan Murji`ah secara etimologi dan terminology, bentuk  dan pendirian, ajaran dari sekte-sekte yang ada pada kedua kelompok tersebut.Kemudian penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.

PembahasanPengertianKhawarij secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu Kharaja yang berarti keluar,muncul, timbul atau memberontak. Murjiaah berasal dari kata-kata irja atau arjaa yang berarti penundaan, penagguhan dan pengharapan.Secara Terminologis khawarij merupakan suatu sekte atau kelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan Ali karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima Abitrase (tahkim) dalam perang shiffin pada tahun 37 H/648M dengan kelompok muawiyah bin Abi Syofiyan perihal persengketaan khilafah.Dapat pula diartikan khawarij keluar yang ditujukan bagi orang-orang yang keluar barisan Ali karena tidak setuju terhadap Ali yang menerima tawaran gencatan senjata lewat abitrase atau tahkim.1Sedangkan Murji`ah adalah kelompok yang menunda penjelasan kedudukan orang yang bersengketa yakni Ali bin Abi Thlib dan Muawwiyah bin Abi Syofiyan serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.Jadi dari pengertian di atas jelaslahlah bahwa kelompok yang menetang Ali dan dan menyatakan diri keluar dari barisan Ali karena Abitrase disebut khawarij dan kelompok yang menangguhkan untuk member vonis atau bersifat nentral terhadap apa yang terjadi atau tindakan dan kebijakan Ali menrima tahkim (abitrase) pada perang Shiffin disebut Murji`ah. Dari itu pula dapat diketahui bahwa pergolakan politik yang terjadi dikalangan umat Islam yang pada akhirnya merebak kepersoalan theologies bermula dari perseteruan antara Ali dan Muawwiyah dalam hal khilafah.
Pokok AjaranPokok-pokok Ajaran Khawarij.Ajaran pokok Khawarij umumnya berkisar pada masalah khilafah (Politik Ketatanegaraan), dosa besar, kafir dan amal perbuatan umat Islam. Tentang khilafah ,Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. Khalifah tidak harus dari keturunan Arab. Khalifah dipilih secara permanen selama bersikap adil dan menjalankan syari`at Islam, ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezhaliman. Khawarij mengakui dua khalifah yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Karena meurut aliran ini khalifah ini diangkat secara demokratis dan memerintah sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi mereka menganggap Usman telah menyelewengkan kekuasaannya sejak tahun ketujuh masa kekalifahannya dan Ali dianggap menyeleweng karena peristiwa abitrase. Sejak saat itulah mereka menganggap kafir demikian pula dengan orang-orang yang menyetujui dan menerima hasil abitrase tersebut. Orang yang melakukan dosa besar tidak lagi Islam, akan tetapi kafir atau murtad dan wajub dijatuhkan hukuman mati.Pokok-pokok Ajaran Murji`ahAdanya keterpihakan kelompok pada pertentangan tentang Ali bin Abi Thalib, muncul kelompok lainnya yang menentang dan beroposisi terhadapnya. Begitu pula terhadap orang-orang yang netral, baik karena mereka menganggap perang saudara ini suatu fitnah(bencana) lalu mereka berdiam diri, atau mereka bimbang untuk menetapkan haq dan kebenaran pada kelompok yang ini atau itu.  Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khawarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.Murji`ah baik sebagai kelompok politik maupun teologis diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan syi`ah dan khawarij. Pada mulanya Murji`ah merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi ketika itu dan menyerahkan penentuan hokum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji’ah adalah:Mukmin dan KafirMurji`ah tidak sependapat dengan Khawarij yang menjatuhkan hukuman kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum murjiah menjatuhkan hokum mukmin.
Dosa BesarPelaku dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah Dia akan mengampuninya atau tidak.
Aliran Murji`ah menagguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat  dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap sebagai seorang mukmin.Karena orang mukmin yang melakukan dosa besar itu tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar  utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir.Dengan demikian dapat dipahami bahwa Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Begitun pula prisip kelompok murji`ah selama meyakini dua kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.Sekte-sekte  Khawarid dan Murji`ahSekte-sekte KhawarijDalam perkembangannya Khawarij terbagai pada beberapa sekte atau subsekte yang meliputi sekte Al-Muhakimah, Al-Azriqah,An-Nadjat, Al-Baihasiyah, Al-Ajaridah, Al-Ibadiyah dan As-Sufriyah. Al-Muhakimah; merupakan golongan Khawarij pertama. Mereka adalah orang-orang yang memisahkan diri dari Ali bin Abi Thalib setelah terjadinya Tahkim. Golongan ini pada mulanya dipimpin oleh Abdullah bin al-Kawa` dan Syabas bin Riya`. namun setelah mereka pindah ke Nahrawan mereka mengangkat dua orang pemimpin yaitu Abdullah bin Wahab ar_Rasiby dan Harqush bin Zuhair Al-Bajly. Golongan ini berpendirian  bahwa Muawiyah dan pengentara Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy`ari serta semua yang menyetujui perdamaian atau atu abitrase bersalah dan dihukum kafir. Meraka menganggap kafir orang-orang yang berbuat dosa besar.Al-Azariqah, merupakan kelompok yang lebih radikal, mereka tidak lgi memakai istilah kafir tetapi musyrik. Di dalam Islam syirik merupakan dosar besar lebih besar dari kafir.  Mereka juga berpendapat bahwa seluruh umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka dianggap musyrik. Penamaan sekte ini dinisbahkan kepada nama pemimpin mereka Abu Rasyid Nafi Bin Al-Azraq.An-Najadat Aziriyah; Sekte ini dipimpin oleh Najadat Ibnu Amir Hanifah dari Yamamah yang memisahkan diri dari Al-Azariqah dikarenakan tidak sependapat dengan paham; bahwa orang azzraqi yang tidak mau berhijrah ke dalam lingkungan al-azriqah adalah musyrik. Paham kelompok ini adalah orang yang melakukan dosa besar yang menjadi kafir  dan kekal dalam neraka adalah orang-orang yang tidak sepaham dengan aliran mereka.Al-Ajaridah ; Sekte ini di pimpin oleh Abdul al-Karim bin `Ajarad. Kelompok ini lebih moderat. Menurut mereka berhijrah bukan suatu kewjiban, namun kebajikan. Kaum al-Ajaridah boleh tinggal di luar kekuasaan mereka dan tidak dianggap kafir. Mengenai pemanfatan harta yang boleh dijadikan harta rampasan perang hanyalah harta orang yang mati dalam perperangan. Anak kecil tidak wajib diseur kecuali setelah mereka baligh. Adapun pelaku dosa besar tetap menganggapnya kafir.Al-Ibadiyyah; kelompok yang dipimpin oleh Abdullah bin Abad. Kelompok ini  sangat sederhana dalam kepercayaan dan dekat dengan Ahlulssunnah. Paham mereka antara lain: orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukanlah musyrik, tetapi kafir.Dengan orang yang demikian boleh  melakukan hubungan perkawinan dan warisan, syahadat mereka dapat diterima. Membunuh mereka adalah haram. Membolehkan saksi, menikah dan salingmewarisi dengn golongan yang bukan golongan mereka. Orang Islam yang melakukan dosa besar adalah muwahid, yng mengesakan Tuhan, tetapi bukan mukmin dan bukan pula kafir al-Millah yaitu kafir agama. Yang boleh dirampas dalam perperangan hanyalah kuda dan senjata. Emas dan perak harus dikembalikan kepada sipemiliknya.Al-Sufriyah;merupakan pengikut dari Ziyad bin Al-Asfar. Mereka berpendirian bahwa mereka yang tidak berhijrah tidak dipandang kafir. Daerah yang tidak sepaham tidak dianggap sebagai daerah perang. Perempuan dan anak-anak tidak boleh menjadi tawanan. Anak-anak kaum musyrikin tidak dibunuh dan tidak dikafirkan dan tidak pul kekal di dalam neraka.Dari sekte-sekte Khawarij dalam perkembangannya dapat diidenti-fikasi melalui  beberapa cirri khusus yang memiliki indikasi sebagai berikut:Ali bin Abi Thalib, Utsman, dan para pengikut Perang Shiffin, serta mereka yang setuju dengan adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah dihukum kafir oleh kaum Khawarij. Setiap umat Muhammad yang berbuat dosa besar dan hingga meninggal belum bertobat, mereka dianggap mati kafir dan kekal di dalam nerakaDiperbolehkan tidak mengikuti dan tidak mentaati aturan-aturan seorang kepala negara (khalifah) yang zalim dan pengkhianat.Tidak ada hukum selain yang bersumber dari Al-Quran (mereka menolak hadis).Anak-anak orang kafir yang mati sebelum balig tetap masuk neraka, karena dihukumi kafir seperti induknya.Semua dosa adalah besar, tidak ada dosa yang kecil.Ibadah termasuk rukun Iman. Siti Aisyah (isteri Rasulullah saw.) terkutuk karena Perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib.Ali bin Abi Thalib tidak sah menjadi khalifah setelah tahkim dan lain-lain
Sekte-sekte Murji`ah.Asal usul kemunculan kelompok Murji`ah  disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor politik dan teologis (Ke-Tuhanan). Faktor politik sangat erat kaitannya dengn persoalan khilafah yang membawa perpecahan di kalangan umat Islam pasca terbunuhnya Usman bin Affan dan dipicu pula  dengan pertikaian antara Ali dan Mu`awiyah dalam peristiwa perang siffin yaitu tahkim atau abitrase atas usulan Amru bin `Ash, seorang kaki tangan (juru bicara dan kepercayaan) Mu`awiyah. Persolan teologi terkait dengan dosa besar yang ditimbulkan oleh Khawarij. Persoalan ini berlanjut kepada persoalan ketuhanan.Dalam perkembangannya kaum Murji`ah terpecah menjadi dua digolongkan atau kelompok yatitu golongan moderat dan ekstrim.Golongan ModeratGolongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada kemungkinan bahwa Tuhan akan meng-ampuni dosanyan dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali.Golongan Murji`ah moderat termasuk Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn `Ali bin Abi Thalib, Habu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadis. Menurut golongan ini, bahwa orang Islam yang berdosa besar masih tetap mukmin. Dalam hubungan ini Abu Hanifah mendefinisikan Iman sebagai berikut: Iman adalah pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan,Rasul-Rasul-Nya dan tentang segala yang datang dari Tuhan dan keseluruhan tidak dalam perincian iman tidak menpunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada perbedaan manusia dalam hal iman.Dengan gambaran seperti itu, maka iman semua orang Islam dianggap sama, tidak ada perbedaan antara iman orang Islam yang berdosa besar dengan orang Islam yang patuh menjalankan perintah-perintah Allah. Jalan fikiran yang dikemukakan oleh Abu Hanifah itu dapat membawa kesimpulan bahwa perbuatan kurang penting dibanding dengan Iman.Golongan EkstrimKelompok Murji`ah ekstrim dapat dikelompokan pada bebrapa golongan  yaitu Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah dan Al-Hasaniyah. Masing-masing kelompok memiliki pemikiran dan pendirian yang berbeda pula sebagaimana penjelasan berikut:Al-JahmiyahKelompok Al-Jahmiyah dipimpin oleh Jahm bin Safwan dan pengikutnya disebut al-Jahmiyah. Mereka berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan, kemudian menya-takan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan iman tempatnya bukan dalam tubuh manusia tetapi dalam hati sanubari. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa orang yang menyatakan iman, meskipun menyembah berhala, melaksanakan ajaran-ajaran agama Yahudi dengan menyembah berhala atau Kristen dengan menyembah salib, menyatakan percaya pada trinitas, kemudian mati, tidaklah menjadi kafir.Melainkan tetap mukmin dalam pandangan Allah.
Ash-ShalihiyahPimpinan kelompok ini adalah Abu Al-Hasan Al-Salihi. Baginya dan para pengikutnya  berpendapat Iman adalah mengetahui Tuhan dan Kufur adalah tidak tahu pada Tuhan. Dalam pengertian bahwa mereka sembahyang tidaklah ibadah kepada Allah, karena yang disebut ibadat adalah iman kepada-Nya, dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
Al-Yunusiyah Kelompok Yunusiah merupakan pengikut Yunus Ibnu `Aunan Numairi yang berpendapat bahwa “iman” itu mengenai Allah dan menundukkan diri kepada-Nya dan mencintai-Nya sepenuh hati. Apabila sifat-sifat tersebut sudah terkumpul pada diri seseorang, maka dia adalah mukmin. Adapun sifat-sifat lainnya, seperti “taat” bukanlah termasuk iman, dan orang yang meninggalkan bukanlah iman, dan orang yang meninggalkan ketaatan tidak akan disiksa karenanya, asalkan saja imanya itu benar-benar murni dan keyakinannya itu betul-betul benar.
Al-HasaniyahKelompok ini mengatakan bahwa, “saya tahu Tuhan melarang memakan babi, tapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini,” maka orang tersebut tetap mukmin bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan,”saya tahu Tuhan mewajibkan haji ke Ka`bah, tetapi sya tidak tahu apakah Ka`bah di India atau di tempat lain,”orang yang demikian juga tetap mukmin.. Dengan demikian ajaran pokok Murji`ah pada dasarnya terinspirasi dari gagasan irja` atau arja`a yang diaplikasikan dalam berbagai persoalan, baik persolan politik maupun teologis. Di bidang politik dokrin irja` diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murji`ah dikenal pula dengan The Queitists( kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi jauh sehingga membuat Murji`ah selalu diam dalam persolan politik. Secara umum kelompok Murji`ah menyusun teori-teori keagamaan yang independen, sebagai dasar gerakannya yang intisarinya sebagai berikut:Iman adalah cukup dengan mengakui dan percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan sesuatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap sebagai mukmin walaupun ia meninggalkan apa yang dipardukan kepadanya dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa besar.Dasar keselamatan adalah iman semata-mata. Selama masih ada iman di hati, maka setiap maksiat tidak akan mendatangkan mudharat ataupun gangguan atas diri seseorang dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid. Dapat dipahami bahwa kelompok Murji`ah memandang bahwa perbuatan atau amalan tidaklah sepenting iman yang kemudian meningkat pada pengertian bahwa hanyalah iman yang penting dan yang menetukan mukmin atau tidak mukminnya seseorang; perbuatan-perbuatan tidak memiliki pengaruh. Iman letaknya di hati seseorang dan tidak diketahui manusia lain. Selanjutnya perbuatan-perbuatan manusia tidak menggam-barkan apa yang ada di hatinya. Oleh karena itu ucapa-ucapan dan perbuatan-perbuatan seseorang tidak mesti mengandung arti bahwa ia tidak memiliki iman. Yang penting ialah iman ada dalam hati. Dengan demikian ucapan dan perbuatan-perbuatan tidak merusak iman seseorang. Untuk mendeteksi spesifikasi dan identitas kelompok atau paham Murji`ah dapat dikenal dari indikasi sebagai berikut:Penagguhan keputusan Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di Akhirat.Penagguhan Ali untuk menduduki rengking keempat dalam peringkat Al-Khulafaurrasyidin.Giving Hope (Pemberian harapan) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.Dokrin-dokrin Murji`ah meyerupai pengajaran para skeptis da empiris dari kalangan helenis.Kemudian Harun Nasution menyebutkan ada empat pokok dokrin dalam teologi Murji`ah yaitu: Menunda hukuman atas Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Syofiyan, Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy`ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat kelak.Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.Mengutamakan iman dari pada amal.Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk  memperoleh ampunan  dan rahmat dari Allah.

PENUTUPSimpulanDari penjelasan terdahulu dapat disimpulkan bahwa yang melatari atau asal usul kemunculan Khawarij dan Murjiah berawal dari pertikaian politik ketatanegaraan (Khilafah) yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Syofiyan pada perang Siffin dengan adanya Abitrase (Tahkim) yang diusulkan oleh Amru bin Ash.
Dari segi pengertian baik secara etimologi dan terminology istilah Khawarij dan Murji`ah  berasal dari bahasa Arab. Khawarij dari kata-kata Kharaja; Keluar sedangkan Murji`ah dari kata-kata Irja` yang bermakna menangguhkan, menunda dan pengharapan. Secara terminology khawarij adalah kelompok atau golongan yang mulanya seti bersama Ali keluar dan memisahkan diri bahkan menjadi oposisi atau menentang Ali karena tidak sepaham dan setuju atas sikap Ali menerima Abitrase (Tahkim). Sedangkan Murji`ah; kelompok yang menagguhkan menilai dan memberi vonis terhadap apa yang dilakukan Ali dan Muawiyah.
Dalam perkembangannya, Kedua  kelompok ini berawal dari persolan politik kemudian berakhir kepada persolan teologis, mulai dari persolan iman dan keyakinan sampai kepada persolan neraka dan posisi manusia yang berdosa di hadapan Tuhan. Kedua kelompok ini juga memiliki sekte dan sub sekte yang cukup banyak sebagaimana yang dikemukakan pada pembahasan terdahulu.   Saran dan HarapanMakalah ini disadari masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi isi kupasan dan kedalaman bahasan maupun sistematika penulisan.Oleh karenanya kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca dan pembahas sangat diharapkan. Atas perhatiannya penulis haturkan terima kasih.
DAFTAR KEPUSTAKAANTafsir,Ahmad, Materi Pendidikan Agama Islam, PT. Remaja  Rosdakarya:Bandung,2001Nasution,Harun, Teologi Islam:Sliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,UI-Press,Jakarta, 1986A`la Al- Maududi ,Abu,Khilafah dan Kerajaan,Penerbit Kharisma, Badung: 2007Rozak ,Abdul dan Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,CV Pustaka Setia, Bandung,2007. Hal.56
Nata, Abuddin, Ilmu Kalam,Filsafat dan Tasawuf,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta,1995Muhammad Asy Syakaah, Mustafa,Islam tidak bermazhab, Gema Insani Press, Jakarta, 1994Daulay,Ahmad, Ilmu Kalam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1997
Aziz Dahlan, Abdul,Teologi dan Akidah Islam, IAIN Press, Padang,2001
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid II,PT. Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta. 2003

  1. Assalamu’alaikum WR Wb, Pak Nazirman, bagaimana komentarnya tentang pemuatan tulisan bapak diatas………..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: