Kisah Krisis Rumah Tangga

Pariaman, Amiruddin

Rumah tangga bahagia,  idaman setiap pasangan suami isteri. Tetapi manusia hanya bisa berencana,  keputusan berada pada tangan Allah SWT. Begitulah kira-kira  kisah yang terjadi dalam rumah tangga pasangan suami isteri Bustiar Efendi (42 tahun) dengan Maini (38 tahun) warga Kecamatan VII Koto.

Pasangan suami isteri ini menikah pada tahun 1993 di Korong Ampalu Tinggi Nagari Lareh Nan Panjang, di rumah memplai perempuan Maini. Sedangkan Bustiar Efendi alias Pendi, anak Korong Ambung Kapur, sama-sama Kecamatan VII Koto. Pernikahan kedua insane ini atas jodohan kedua orang tua.

Kini pasangan suami isteri tersebut,  telah dikarunia 4 orang anak 3 laki-laki 1 perempuan. Kesemua anak itu, sedang membutuhkan perhatian dan kasih sayang kedua orang tua mereka. Namun dibalik itu, sekitar bulan Januari 2010, terjadilah hal yang tidak diinginkan dalam rumah tangga tersebut.

Rumah tangga yang sudah dibina selama 17 tahun itu, hancur berkeping-keping. Pendi, mendapatkan isteri tercintanya (Maini), berselingkuh dengan laki-laki lain yang masih lajang, bekas anak buahnya.

Karena kejadian itu, setelah berpikir panjang, Pendi memutuskan untuk bercerai, setelah melalui proses di Pengadilan Agama Pariaman, pada tanggal 6 April 2010, berdasarkan Penetapan Pengadilan Agama Pariaman. Nomor 01/Pdt-G/010/PA, cerainya telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Selama proses perceraian, kedua anak manusia ini tidak ada saling menuntut, kecuali kebutuhan anak-anak. Pasangan suami isteri ini, selama mendayung kehidupan berumah tangga, berusaha dagang kelontong kebutuhan harian yang sudah digeluti Pendi sebelum  menikah dengan Maini.

Menurut persi Pendi, karena ada hutang piutang yang harus diselesaikan, seperti pinjaman sama bank dan hutang sama sales serta distributor berjumlah sekitar Rp. 400 juta lebih.

Makanya Pendi, berinisiatif menjual barang dagangan yang masih ada, guna pelunasan hutang piutang tersebut. Namun pekerjaan Pendi itu, tidak disenangi oleh mantan isterinya Maini. Pada pertengahan Agustus 2010 ini.Pendi dilaporkan ke Polres Kota Pariaman  dengan tuduhan pencurian dalam rumah tangga dan langsung ditahan pada kantor Polsek Pauh Pariaman.

Pendi yang ditemui  di Kantor Polsek Pauh Pariaman, Kamis (16/9-10) mengatakan, telah memberikan kuasa hukum kepada Kantor Pengacara Alwis Ilyas, SH dan Pendi meminta kasus ini bisa berlanjut sampai ke pengadilan. “Masak saya menjual milik saya kok dikatakan pencurian,” tutur Pendi.

Kata Pendi, mantan isterinya Maini, telah banyak pula mengambil barang dagangan dan termasuk perabotan rumah tangga dengan nilai puluhan juta rupiah. Menurut Pendi, dia sudah melaporkan juga mantan isterinya Maini ke Polres Kota Pariaman, agar bisa pula diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Anehnya kata Pendi, laporannya ke pihak kepolisian kurang ditanggapi, sehingga   sampai kini, mantan isterinya Maini, masih di luar dan belum ada tanda-tanda akan di tahan. Yang tidak habis pikir tutur Pendi, kenapa hukum terhadap dirinya tidak diberlakukan sama,” ulangnya.

Pada tempat terpisah Maini yang dihubungi,  disela-sela proses pemeriksaan di Kantor Kabagreksrim Polres Kota Pariaman Kamis (16/9-10) dengan didampingi suami kakak iparnya, bernama Amiruddin,  menceritakan pula persinya. Katanya, dua tahun sebelum dia tertangkap oleh suaminya Pendi bersama laki-laki lain, dia sudah ingin untuk bercerai dengan ayah anaknya itu.

Keluhan itu, sudah pernah disampaikan kepada kedua orang tuanya. Namun tidak digubris, dan meminta untuk bersabar, disebabkan anak-anak. Menurut Maini, alasannya untuk bercerai, melihat gelagat  suaminya kurang jujur dalam berusaha dan banyak uang dagangan yang dibawa kerumah orang tuanya.

Maini juga menyebutkan, suaminya Pendi selalu menyuruh dirinya untuk meminta  uang kepada  orang tuanya, sampai kini yang masih  teringat baginya berupa barang sebanyak 254 mas dan uang kontan Rp. 388 juta. Kemudian ditambah pembelian 1 buah rumah yang terletak di Desa Kampung Baru Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman,  senilai Rp. 96 juta.

Masih persi Maini,  yang didampingi kakak iparnya Amiruddin, dasar uang pembelian rumah tersebut, yang kini sudah dirobah menjadi toko, adalah penjualan kendaraan roda empat pembelian kakak kandungnya, ditambah bantuan kedua orang tuanya. Setelah itu, rumah itu diborohkan lagi oleh suaminya Pendi ke bank untuk modal usaha.

Kemudian tutur Maini dan Amiruddin, sampainya  persoalan ini ke pihak kepolisian, karena ingin meminta jatah anak-anak. Soalnya, sejak terjadi perceraian di Pengadilan Agama Pariaman, mantan suaminya Pendi tidak ada memberi kebutuhan anak-anak.

Menurut Amiruddin kakak ipar Maini, guna melaporkan  Pendi, kepihak ke polisian awalnya  sebatas untuk sok terapi, agar Pendi mau memberikan hak anak dan mengembalikan barang dan uang orang tua Maini yang terpakai.

“Tetapi apabila Pendi tidak mau untuk berdamai dan ingin melanjutkan kasus ini ke Pengadilan, kita juga siap menunggunya di meja hijau. Lihat saja nanti siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kalau Pendi ingin bermain kita juga sudah siap untuk itu,” tukuk laki-laki paro baya ini yang mengaku ada hubungan Kejari Pariaman.

Ditambahkan lagi oleh Amiruddin, sasaran tembak sebenarnya yang dilaporkan adik-adi Pendi yang sengaja memindahkan  barang dagangan ke tempat lain, sepeti Kampung Kandang, Padang Sago dan ke kedai adiknya sendiri di Kampung Baru.

“Sekali lagi saya tegaskan, kata Amiruddin, Pendi harus ingat, apabila tidak mau untuk berdamai, seluruh yang terkait menampung barang dagangan itu, bisa dituduhkan sebagai penadah oleh polisi. Sama-sama kita lihat saja nanti,” imbuhnya lagi dengan nada enteng.

Ketika ucapan Maini dan Amiruddin dikonfirmasikan kembali kepada Pendi, secara tegas dia membantah. Tidak satu senpun mertuanya dan pihak keluarga isterinya, ikut bersaham dalam usaha daganganya.

“Jauh sebelum menikah dengan Maini, saya sudah berusaha dan punya kedai kelontong di Kota Pariaman dan ini bisa dimintakan saksi sama-sama pedagang di Kota Pariaman. Semua ucapan Maini bersama kakak iparnya Amiruddin, mengada-ada,” jawab Pendi dengan lantang.

Kasatreksrim Polres Kota Pariaman, AKP Hendri Yahya, yang dikonfirmasi Target melalui telepon genggamnya, membenarkan kasus itu, katanya, kedua kasus itu tetap akan diberlakukan sama dan tidak ada yang dianak tirikan.

Menurutnya, terlambat  proses pengaduan Pendi terhadap mentan isterinya Maini, karena saksi-saksi belum lengkap. Apabila semua saksi udah cukup dan sesuai fakta hukum. “Percayalah keduanya sama dimata hukum,” ujarnya.

Alwis Ilyas, SH kuasa hukum Pendi, ketika dikonfirmasi, pada tempat terpisah, mengatakan, pihak kepolisian sebagai penegak hukum, agar memperlakukan kasus ini secara adil sesuai menurut mata hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

“Kita meminta pihak kepolisian berlaku secara adil dalam menangani kedua kasus ini dan  harus melakukan penahanan terhadap Maini cs,” ucap Alwis.

Sementara itu, Wakil Panitera (Wapan) Pengadilan Agama (PA) Pariaman, Suarni Alif, SH yang diminta pendapatnya, sekaitan tentang persiteruan pasangan suami isteri itu, mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Peradilan Agama, penyelesaian harta bersma tersebut, melalui jalur hukum di Pengadilan Agama.

“Pihak perempuan yang merasa berhak atas pembagian harta pencarian selama berumah tangga dengan suaminya, mengajukam permohonan ke Pengadilan Agama Pariaman dan bukan  kejalur pidana,  disebabkan sebagian besar harta tersebut, atas nama suami,” ungkapnya. (***)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: